Sebuah Epilog

….
Akhirnya aku bisa menepati janjiku pada diriku sendiri. Aku gak akan menitikkan air mata di depannya, meskipun untuk itu tenggorokanku tercekat karena menahan isak dan kata-kata yang ingin terucap.
Aku menatapnya diam-diam. Menelusuri garis wajah yang sebentar lagi mungkin tak akan pernah kulihat lagi. Betapa aku akan sangat merindukannya, ucapku dalam hati.

Dan detik itu pun tiba, detik saat aku harus melihatnya melangkah pergi. Hanya sebuah jabat tangan dan ucapan selamat jalan yang mampu aku ucapkan. Hampir hancur pertahananku ketika dirinya memasuki gerbang dimana aku tak bisa mengikutinya lagi, segera kuberbalik dan tanpa menoleh lagi kutinggalkan tempat itu.

Perjalanan pulang terasa lebih panjang. Sunyi. Menyakitkan. Air mata itupun jatuh.

Amanahnya segera kulakukan. Ini tanggungjawabku untuknya.

Di keheningan kamar aku terdiam. Potongan-potongan peristiwa berjalan di depan mataku seperti sebuah gulungan rol film. Terlalu indah untuk dilupakan, dan kuharap masih akan ada waktu bagiku menciptakan potongan-potongan gambar yang lain dengannya.

Dia memang sudah pergi. Menempuh jalan hidupnya yang baru.
Ada rasa yang ingin kucipta, bahwa dia selalu dekat bagiku.
Karena bukan masalah dia ada disana…atau dimana…..
Karena dia ada disini…di dekatku…..di dalam hatiku.

Dan garis wajah itupun ikut tersimpan rapi di sebuah sudut hatiku.

1 Comment

  1. paydjo.Net said,

    16 November 2008 at 8:22 pm

    mmm … anu

    amanahnya mbeliin aku bebek goreng pak slamet ya :D

    rahasia nu..;;)


Post a Comment